MANUSIA DAN WAKTU
Di kamar sunyi yang penuh kenangan, berdetak jam di atas meja kayu. Suaranya lembut, tapi menusuk perasaan. Arman duduk termenung, menatap jarum yang berputaran, seolah waktu sedang menertawakan kelalaiannya. Setiap detik seakan berbisik, “Kau tak akan bisa mengulang kehidupan.” Hening menemani malam yang panjang, dan di dalam hati kecilnya, Arman tahu waktu sedang menegurnya perlahan.
Dulu, waktu baginya hanyalah hitungan. Pagi untuk pekerjaan, malam untuk kesenangan. Ia jarang berdoa, jarang menatap langit, jarang merenungkan alasan keberadaan. Segalanya tentang dunia, tentang uang dan pengakuan. Ia menunda ibadah, berkata “nanti,” seakan Tuhan memberinya jaminan perpanjangan. Ia tertawa, hidup seperti tak punya tujuan, padahal setiap napas adalah pinjaman.
“Masih muda,” katanya dengan keangkuhan. “Nanti aku tobat kalau sudah tua dan tenang.” Tapi waktu tak pernah menunggu kesiapan. Ia berjalan dalam diam, membawa usia bersama penyesalan. Setiap hari berlalu tanpa kesadaran, dan hati Arman semakin gelap oleh kesibukan. Ia lupa, waktu bukan hanya angka, melainkan perjalanan menuju kematian.
Suatu sore, langit mendung, angin berhembusan. Telepon berdering membawa guncangan. Suara dari kampung terdengar pilu dalam kepanikan, ibunya sakit, menunggu kepulangan. Arman tercekat, wajahnya pucat dalam kepanikan. Ia menatap jam, tapi jarumnya seolah memperlambat perjalanan. “Ya Allah,” doanya lirih, “jangan biarkan aku terlambat dalam penyesalan.”
Ia memacu kendaraan dalam keheningan. Hujan deras mengguyur perjalanan, membasahi kaca dan menenggelamkan pandangan. Dalam hati ia bergulat dengan ketakutan, seolah waktu berlari menjauh dari genggaman. Setiap detik menjadi beban, setiap jalan menjadi ujian. Ia sadar, betapa lemahnya manusia ketika berhadapan dengan ketentuan Tuhan.
Namun sesampainya di rumah, semua sudah terlambat. Di ruang tamu, kain kafan putih menyelimuti tubuh yang dulu penuh kasih sayang. Ibunya pergi dalam ketenangan, meninggalkan pesan tanpa ucapan. Dunia tiba-tiba hening. Tak ada suara azan yang lebih menenangkan dari tangisan itu. Arman menatap wajah ibunya yang dingin, dan untuk pertama kali, ia merasakan kehilangan yang lebih dalam dari kematian — kehilangan waktu yang tak bisa dikembalikan.
Ia bersimpuh di samping jenazah, tangan gemetar memegang sajadah peninggalan. “Ya Allah,” bisiknya dengan air mata kepasrahan, “aku terlalu sibuk dengan dunia, sampai lupa pada ibu yang Kau titipkan.” Suaranya pecah dalam kesunyian. Malam itu ia menangis hingga mata bengkak, tapi bukan karena duka semata, melainkan karena penyesalan yang tak bisa dihapuskan oleh waktu.
Hari berganti, tapi hatinya belum menemukan kedamaian. Setiap langkah mengingatkannya pada kehilangan. Setiap jam berdetak seperti cambukan. Namun di tengah penyesalan, lahir kesadaran. Ia mulai memahami bahwa waktu bukan musuh, melainkan peringatan. Tuhan tidak mengambil ibunya untuk menghukumnya, tapi untuk menyadarkannya dari kelalaian.
Sejak itu, Arman berubah perlahan. Ia bangun sebelum fajar, mengambil air wudu dengan ketenangan. Dingin air bukan lagi gangguan, tapi panggilan untuk penyucian. Ia sujud lebih lama, bukan karena kewajiban, tapi karena kerinduan. Dalam tiap doa, ia sebut nama ibunya, berharap pahala amalnya menjadi kiriman. Hidupnya mulai dipenuhi cahaya kesadaran, bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Di pagi hari, ia duduk di teras rumah menatap matahari terbit dengan kekaguman. “Betapa sabarnya Engkau, Ya Allah,” ucapnya dengan perenungan. “Aku lalai, tapi Engkau masih beri aku kesempatan.” Ia mulai mencintai waktu, bukan karena uang, tapi karena di dalamnya ada rahmat dan pengampunan. Setiap detik kini ia isi dengan kebaikan, membantu tetangga, menyantuni yatim, mengingatkan teman akan ketaatan.
Waktu berjalan, tapi kini Arman berjalan bersamanya, bukan melawannya. Ia tak lagi mengeluh tentang kesibukan, karena tahu setiap tugas bisa jadi ladang amal kebaikan. Ia menolak hidup tanpa arah dan tujuan, sebab waktu yang terbuang adalah dosa dalam diam. Ia sadar, hidup bukan tentang panjangnya perjalanan, tapi tentang bagaimana perjalanan itu dijalani dengan keimanan.
Suatu malam, jam di kamarnya berhenti berdetak. Jarumnya tak lagi bergerak, seolah ikut kelelahan. Arman menatapnya sambil tersenyum, “Mungkin waktuku juga akan berhenti, tapi semoga aku berhenti dalam keridhaan.” Ia letakkan jam itu di meja, dan malam itu, ia membaca Al-Qur’an hingga akhir surah. Ayat demi ayat seperti air yang menenangkan, menyapu bersih sisa-sisa kelalaian.
Dalam sujud panjang, ia berdoa penuh penyerahan. “Ya Allah, jika ini waktuku, biarlah aku pergi dalam ketenangan. Jangan biarkan aku mati dalam kesia-siaan.” Angin malam berhembus lembut, menyingkap tirai dan menyejukkan ruangan. Dalam keheningan itu, waktu terasa berhenti. Tak ada suara selain detak jantung yang berdzikir dalam keimanan.
Fajar datang membawa cahaya keemasan. Di kamar kecil itu, Arman terbaring tenang di atas sajadah. Senyum tipis menghiasi wajahnya, seolah tidur dalam kedamaian. Jam di dinding masih diam, tapi kini diamnya bukan kehampaan, melainkan penghormatan. Waktu seakan berhenti memberi hormat kepada seseorang yang telah menebus kesalahan dengan keikhlasan.
Hari itu, orang-orang datang mendoakan. Mereka mengenang Arman bukan karena kekayaan, tapi karena perubahan. Ia pergi dalam ketaatan, meninggalkan pesan tentang kesadaran. Bahwa waktu bukan untuk dihabiskan, melainkan digunakan untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Setiap detik adalah ujian, dan siapa yang menggunakannya dengan iman, akan pulang dengan senyuman.
Tugas Bahasa Indonesia (Guru Mapel: Hanifa Septianasari, S.Pd)
Kelompok 1
Rizky
Azzam
Fadly